PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan
sampai dengan usia 6 tahun.[1]Usia
dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang
pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa ini semua potensi
yang dimiliki oleh anak berkembang dengan sangat cepat. Oleh karena itu pada masa usia dini merupakan periode yang tepat dalam
memberikan rangsangan pendidikan.
Undang-undang No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 menyebutkan
bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.[2]
Pendidikan Anak Usia Dini sangat menentukan
kesuksesan seseorang dimasa depan. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa
ayat 9 yaitu:
وَلْيَخْشَ
الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ
فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا
قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya: “Dan hendaklah orang-orang takut
kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam
keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh
sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepadaAllah dan mengucapkan perkataan yang
benar”. (QS. An-Nisa’: 9)[3]
Al
Qur’an Surat An Nisa’ Ayat 9 menjelaskan agar umat Islam menyiapkan generasi penerus
yang berkualitas sehingga anak mampu mengaktualisasikan potensinya sebagai
bekal kehidupan dimasa mendatang.Salah satu cara
untuk mengaktualisasi potensi yang dimiliki oleh anak yaitu dengan menyediakan
layanan pendidikan melalui proses pembelajaran yang menyenangkan, yaitu melalui
bermain.
Dunia anak merupakan dunia bermain sehingga
antara anak dan bermainmerupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Bermain merupakankegiatan yang terjadi secara
ilmiah pada anak.Bermain merupakan kegiatan atau aktivitasyang dilakukan
melalui cara yang menyenangkan dan untuk mendapatkankesenangan.[4]
Rasululloh saw adalah teladan yang baik baik
dalam segala hal. Beliau bermain dengan cucu-cucu beliau, anak-anak para
sahabat; beliau bercanda dengan mereka, menghibur dan mendorong mereka untuk
bermain dan menghibur diri dengan permainan yang dibolehkan. Abdullah bin
al-Harits Ra. meriwayatkan sebuah hadis:Rasululloh Saw, membariskan Abdullah,
Ubaidillah, dan Kutsair Ibnu Abbas Ra. Kemudian beliau berkata,” Siapa yang
lebih dulu sampai kepadaku, maka baginya ini dan ini (hadiah)”. Abdullah dan
Haritsah berkata, “ Maka anak-anak tersebut bersaing lari kepada Rasululloh Saw
sehingga ada yang terjatuh kepunggung, dada beliau, beliau merangkul dan
memangku semuanya.” (HR. Ahmad).
Bertitik tolak dari perhatian Nabi Saw
terhadap pemberian kesempatan untuk bermain kepada anak-anak, para ahli
pendidikan Islam menyerukan untuk memenuhi kebutuhan anak akan bermain,
bercanda dan beristirahat.[5]Ada banyak hal yang diperoleh anak melalui bermain yaitu bermain
dapat memicu kreativitas, mencerdaskan otak, menanggulangi konflik, melatih
empati anak, mengasah panca indra, sebagai media terapi (pengobatan) dan
melalui bermain berarti anak melakukan penemuan.[6]
Peran
bermain yang sangat besar bagi perkembangan anak seperti yangtelah diuraikan
tersebut menjadikan bermain sebagai alat belajar utama danmerupakan cara yang
paling baik untuk mengembangkan kemampuan diri anak. Hal tersebut memberikan penekananbahwa dalam pemberian stimulasi
pada anak usia dini sebaiknya menggunakanpendekatan bermain. Pemberian stimulasi
pada anak, termasuk melalui pendekatan bermain,seyogyanya dapat diberikan sejak
dini karena menurut beberapa ahli 80% potensihidup manusia terbentuk ketika
usia dini yaitu pada kisaran usia 0-8 tahun.
Pemberian stimulasi pada anak tersebut merupakan tugas
bagiorang
dewasa. Peran serta orang dewasa dalam
kehidupan anakmemberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan anak, salah satunya
adalah peranorang tua dan guru terhadap bermain anak.Adanya keterlibatan orang
tua dan guru tersebut akan mengoptimalkan kegiatan bermain anak sehingga
aspek-aspek perkembangan dan kemampuannya dapat berkembang secara optimal dan siap untuk mencapai tingkat perkembangan selanjutnya.
Untuk
mengoptimalkan kegiatan bermain anak, dibutuhkan alat-alat permainan yang
diperlukan dalam menunjang kegiatan bermain. Alat-alat permainan tersebut disusun
menurut sifat dan tujuan aktivitasnya dalam kelompok-kelompok yang disebut
dengan area kegiatan.[7]
Area kegiatan ini diselenggarakan di Taman Kanak-kanak dengan alat-alat
permainan yang menarik dan dimaksudkan untuk menimbulkan suasana yang
menyenangkan dan penuh dengan keakraban. Oleh karena itu, perlu sekali bagi
kita baik guru maupun orang tua untuk memahami peran bermain, peran orang
dewasa dalam bermain serta area-area dalam bermain agar kegiatan bermain anak
dapat terstimulasi dengan baik sehingga aspek-aspek perkembangannya dapat
berkembang dengan optimal.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah peran bermain bagi
anak?
2. Bagaimanakah
peran orang dewasa dalam bermain?
3. Apasajakah
area bermain untuk anak?
C. Tujuan Makalah
1. Untuk
mengetahui peran bermain.
2. Untuk
mengetahui peran dewasa dalam bermain.
3. Untuk
mengetahui area bermain untuk anak.
PEMBAHASAN
A. Peran
Bermain
Setiap
anak terlahir dalam keadaan fitrah. Artinya, setiap anak dilahirkan dalam
keadaan memiliki karakter asli dan potensi. Selanjutnya adalah tugas orang
dewasa untuk menjadikan anak menjadi pribadi yang tetap fitrah sampai dengan
mereka dewasa kelak. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 30
sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚفِطْرَتَ الَّهِ الَّتِي
فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚلَا
تَبْدِيلَ لِخَلْقِ الَّهِ ۚذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون
Artinya: “Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: 30)
Surat
Ar-rum ayat 30 menjelaskan tentang manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan
fitrah sesuai dengan prinsip penciptaan
danpotensi yang suci murni. Akal manusia itu seakan-akan
lembaran yang putih bersih dan siap untuk menerima tulisan yang akan di
tuangkan di atasnya, dan ia seperti lahan yang dapat menerima semua apa yang
akan ditanamkan kepadanya. Jiwa manusia itu tidak akan mengganti fitrah yang
baik ini dengan pendapat-pendapat yang dapat merusakkannya melainkan adanya
seorang guru yang mengajarinya. Demikian pula akal, ia tidak akan terkena
pengaruh melainkan dari faktor luar yang menyesatkan tanpa ia sadari.
Untuk
mendidik dan mengembangkan segenap potensi yang ada pada anak secara optimal
sesuai dengan kemampuan bawaannya, orang tua memerlukan fasilitas dan sarana
pendukung dalam berbagai bentuk dan dilakukandalam suasana yang menyenangkan.
Salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan bermain anak, karena dunia anak
merupakan dunia bermain, dan bermain adalah hal yang menyenangkan bagi
anak.
Bermain ialah setiap
kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan , tanpa mempertimbangkan hasil akhir
serta dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar
atau kewajiban.[8]Bermain merupakan
kegiatan yang dilakukan anak secara spontan karena disenangi, dan sering tanpa tujuan
tertentu.
Docket dan Fleer berpendapat bahwa bermain
merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermainanak akan memperoleh
pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya.[9]Melalui bermain, anak
diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat
dengan lingkungan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna (bermanfaat)
bagi anak.[10]
Hasil penelitian yang dilakukan oleh para
ilmuwan menyatakan bahwa bermain bagi anak-anak mempunyai arti yang sangat
penting karena melalui bermain anak dapat menyalurkan segala keinginan dan
kepuasan, kreativitas dan imajinasinya.[11]Melalui
bermain anak dapat melakukan kegiatan-kegiatan fisik, belajar bergaul dengan
teman sebaya, membina sikap hidup positif, mengembangkan peran sesuai dengan
jenis kelamin, menambah perbendaharaan kata, dan menyalurkan perasaan tertekan.Bermain
juga memilki peranan yang besar bagi perkembangan anak secara keseluruhan.
Adapun peran bermain bagi anak antara lain:
1. Bermain Memicu
Kreativitas
Setiap anak memilki
bakat kreatif. Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak yang
perlu dikembangkan sejak usia dini. Ditinjau dari segi pendidikan, bakat
kreatif dapat dikembangkan, dan karena itu perlu dipupuk sejak dini. Bila bakat
kreatif anak tidak dipupuk, maka bakat itu tidak akan berkembang bahkan menjadi
bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan.[12]
Kreativitas dapat
dipandang sebagai suatu aspek dari pemecahan masalah yang mempunyai akar dalam
bermain.Saat anak menggunakan daya khayalnya dalam bermain, dengan atau tanpa
alat, mereka lebih kreatif.[13]Dalam
lingkungan bermain yang aman dan menyenangkan, bermain memicu anak menemukan
ide-ide dan menggunakan daya khayalnya.Hasil penelitian mendukung dugaan bahwa
bermain dan kreativitas saling berkaitan karena baik bermain maupun kreativitas
mengandalkan kemampuan anak menggunakan simbol-simbol.
2. Bermain berperan
mencerdaskan otak
Usiadini memegang
peranan yang sangat besar dan penting karena perkembangan otak manusia
mengalami lompatan dan berkembang sangat pesat pada usia tersebut, yakni
mencapai 80%. Ketika dilahirkan kedunia, anak manusia telah mencapai perkembangan
otak 25%, sampai usia 4tahun perkembangannya mencapai 50%, dan sampai usia 8 tahun mencapai 80%, selebihnya berkembang sampai usia 18 tahun.[14]
Ini berarti berarti anak usia dini memiliki masa perkembangan otak yang dahsyat
dan perlu mendapat stimulasi yang optimal, salah satunya melalui bermain.
Bermain merupakan
sebuah media yang sangat penting bagi proses berpikir anak. Bermain membantu
perkembangan kognitif anak.Vygotsky dalam Naughton percaya bahwa bermain
membantu perkembangan kognitif anak secara langsung.[15]Bermain
memberikan kontribusi pada perkembangan intelektual atau kecerdasan berpikir
dengan membukakan jalan menuju berbagai pengalaman yang tentu saja memperkaya
cara berpikir mereka.
3. Bermain berperan
menanggulangi konflik
Pada anak usia TK
tingkah laku yang sering muncul ke permukaanadalah tingkah laku menolak,
bersaing, agresif, bertengkar, meniru, kerja sama, egois, simpatik, marah, ngambek,
dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka.[16]Apabila
kita teliti maka lebih banyak perilaku anak yang asosial yang tampil pad
periode ini daripada tingkah laku yang prososial. Dapat dimengerti bahwa
periode ini konflik tak dapat dihindarkan.
Semua tingkah laku
yang disebutkan di atas, diperlukan pemunculannya justru untuk mengarahkan
anak-anak yang asosial dan egoistis menjadi makhluk-makhluk sosial.TK
memberikan ruang bagi anak melalui bermain dalam kelompok besar maupun kelompok
kecil untuk mengatasi konflik yang terjadi.Sandiwara boneka, bermain
dramatisasi bebas dan bercerita dengan berbagai metode merupakan beberapa
kegiatan bermain yang dimaksud.
4. Bermain berperan
untuk melatih empati
Empati adalah
pengenalan perasaan, pikiran dan sikap orang lain, dapat juga dikatakan
pengenalan jiwa orang lain. Dengan kata lain, empati adalah keadaan mental yang
membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan
atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau kelompok lain.[17]
Empati merupakan
suatu faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati
anak dapat merasakan penderitaan orang lain. Dengan mengembangkan empati anak
akan pandai menempatkan dirinya, perasaan pada diri, perasaan pada orang lain
dan mengembangkan tenggang rasa. Melalui bermain sandiwara boneka atau
dramatisasi terpimpin sikap empati dapat dikembangkan di TK.
5.
Bermain berperan mengasah pancaindra
Kelima indra, yaitu
penglihatan, pendengaran, penciuman, pengucapan dan perabaan merupakan
alat-alat vital yang perlu diasah sejak anak masih bayi. Tujuannya tentu saja
agar anak menjadi lebih tanggap dan lebih peka terhadap apa yang terjadi
disekitarnya. Ketajaman penglihatan dan pendengaran sangat penting dan sangat
dibutuhkan anak usia TK sehingga perlu segera dikembangkan karena akan membantu
anak lebih mudah belajar mengenal dan mengingat bentuk simbol-simbil tulisan
yang akan membantu anak membaca dan menulis di SD. Banyak jenis permainan TK
yang menunjang perkembangan kepekaan pancaindera, seperti permainan kotak aroma
untuk latihan penciuman, permainan suara apa untuk latihan indera pendengaran,
gambar-gambar di buku untuk latihan indera penglihatan, nyanyian apa rasanya
dan permainan merasakan berbagai rasa makanan dengan mata tertutup untuk
melatih indera pengecapan.
6.
Bermain sebagai media terapi (pengobatan)
Sigmund Freud, bapak
psikoanalisis mengemukakan bahwa anak menggunakan bermain sebagai salah satu
cara untuk mengatasi masalah konflik dan kecemasannya.[18]Berawal
dari teori ini para ahli ilmu jiwa mendapat ilham untuk menggunakan bermain
sebagai alat diagnosis mengobati anak yang bermasalah, yang dikenal di kalangan
para ahli dengan terapi bermain.Namun, tidak semua orang dapat melakukannya
karena ini memerlukan keahlian khusus untuk itu.
7.
Bermain itu melakukan penemuan
Ini artinya bermain
dapat menghasilkan ciptaan baru. Anak mana pun, usia berapa pun, saat bermain
sedang menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah diciptakan
sebelumnya.[19]Menurut Conny R. Semiawan,
melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan
bermain secara bebas, anak dapat berekspresi dan dan bereksplorasi untuk
memperkuat hal-hal baru yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru.[20]
Anak akan bertanya
jika ada sesuatu yang ia butuhkan/ pahami saat bermain. Bagi guru yang
berpengalaman, anak-anak yang bermain sering dilihat, seperti sedang melakukan
penemuan-penemuan setiap waktu. Penemuan tersebut bisa saja kebetulan, seperti
dalam bermain di bak air, ketika anak pertama kali menemukan bahwa jumlah air
yang sama dapat mengisi tiga wadah yang sama besar atau sebuah sebuah wadah
besar dan wadah kecil. Apabila air dituang ke wadah, seperti botol ada caranya,
air apabila dipukul dengan tangan akan memercikkan kemana-mana, lain dengan
pasir. Penemuan baru ini sangat menyenangkan anak.
B. Peran
Orang Dewasa dalam Bermain
1.
Peran Orang Tua
dalam Bermain
Pada suatu hari Rasulloh Saw mempercepat dua rakaat
terakhir dari sholat zuhurnya.melihat kejadian ini para sahabat terheran-heran.
Setelah selesai salam, salah seorang tampil bertanya, apa yang terjadi dengan
sholat kita wahai Rasul?
“Memangnya ada apa?” Nabi balik
bertanya.
“Singkat sekali dua rakaat yang
terakhir?
“ Apakah kalian tidak mendengar
tangisan anak-anak?”
Berkaitan dengan peristiwa ini Anas Ra. Pernah
meriwayatkan hadis berikut:
“Rasulullah Saw pernah mendengar tangisan anak kecil
bersama ibunya ketika Baginda sedang sembahyang, lalu Baginda pun membaca surat
yang sedikit ayatnya atau surat yang pendek.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi,
Ibnu Majah,dan Ahmad)
“Sesungguhnya saya pernah akan melakukan sholat,dan
saya bermaksud memperpanjang dan memperlama sholat saya tersebut. Lalu saya
mendengar suara tangisan bayi, maka saya pun mempercepat dan memperpendek
sholat saya,sebab saya tahu ibunya malah gembira dengan tangisan anak
tersebut.”(HR.Bukhari dan Muslim)
Ada peristiwa lainnya ketika Rasululloh naik ke atas
mimbar untukber khutbah dihadapan banyak orang. Tiba-tiba, beliau melihat Hasan
dan Husain berlari-lari hingga terjatuh. Maka, beliau memutuskan dan
menghentikan khutbahnya, kemudian turun dan pergi mendatangi keduanya. Keduanya
diletakkan di tangannya, kemudian naik lagi ke atas mimbar dan bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya harta kekayaan dan
anak-anak kalian hanyalah cobaan bagimu. Demi Allah, saya melihat kedua anak
saya ini (maksudnya disini adalah cucu) berlari-lari dan tergelincir jatuh.
Maka, saya tidak kuasa (menahan perasaan saya) sehingga saya harus turun dan
mengangkat keduanya.”(HR. Tirmidzi)
Demikianlah beberapa
riwayat yang menggambarkan tentang pengajaran Nabi Muhammad Saw menyangkut
cinta dan perhatiannya terhadap anak-anak. Nabi Muhammad Saw melihat bahwa anak
memiliki dunianya sendiri. Mencintainya adalah menumbuhkembangkan bakat dan
kepribadiannya.
Dunia anak adalah dunia
permainan. Dengan bermain, ayah, ibu atau siapapun dapat mendidiknya. Karena
itulah Rasulullah Saw. menekankan pentingnya bermain bersama anak. Beliau berkata,
“Siapa yang memilki anak hendaklah ia bermain bersamanya.” Da;am hadis lain
beliau bersabda:
“Siapa yang
menggembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa
yang bergurau untuk menyenangkan hatinya, maka ia bagaikan menangis karena
takut kepada Allah.”[21]
Peranan orang dewasa sangatlah penting dalam
kegiatan bermain anak. Menjadi teladan untuk gaya hidup aktif sama pentingnya
dengan memberikan anak waktu, ruang dan bahan untuk bermain. Anak-anak belajar
dari melihat, mendengarkan dan meniru apa saja yang terjadi di sekitarnya.
Ketika anak melihat bahwa orang tua aktif, anak akan sering ingin ikut serta
dan mencoba kegiatan pergerakan yang sama seperti yang dilakukan orang tuanya.
Orang tua tidak harus selalu terlibat dalam permainan
anak. Namun, orang tua harus mengawasinya terutama jika anak-anak sedang
bermain dengan benda mainan baru atau diruang bermain yang menantang. Yang,
penting anak merasa senang dengan apa yang dilakukan ketika ia aktif.
Lingkungan keluarga memainkan peranan yang amat penting dalam membantu
anak-anak menikmati kegiatan fisik. Adakalanya orang tua dapat menjadi rekan
favorit anak, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Penting untuk
bersikap positif pada anak, pujian orang tua dan dorongan untuk mencoba
cara-cara baru untuk bergerak. Tunjukkan kepada anak bahwa orang tua juga
senang menjadi aktif. Bahkan, sebelum anak dapat berjalan atau berbicara,
berikan peluang berkala untuk bergerak secara bebas dan berinteraksi dengan
orang lain membentuk dasar keterampilan fisik, sosial, dan intelektual seumur
hidup.
Pergerakan bebas dan permainan yang di pandu
anak-anak merupakan bentuk terbaik kegiatan fisik untuk anak. Memberikan banyak
peluang kepada anak menciptakan permainan dan kegiatan mereka sendiri merupakan
cara yang menyenangkan dan sesuai bagi anaku untuk tumbuh. Peran orang tua
dalam kegiatan bermain anak sebagai berikut:
1. Memberikan pilihan untuk
bermain secara aktif
Keterampilan bergerak dasar seperti melempar,
melompat, berlari, menari dan menjaga keseimbangannya semuanya dapat dicoba
dengan benda bermain sederhana seperti kotak, lingkaran, periuk dan panci,
penyapu, kayu, dan ban. Benda mainan tidak harus selalu merupakan barang
mainan. Membuat benda mainan dari benda sehari-hari anak dengan anak merupakan
kegiatan yang menyenangkan dan mudah untuk dilakukan bersama-sama. Ruang
bermain yang biasa seperti halaman belakang, padang rumput, lumpur, dan pohon
tumbang juga dapat memberikan pengalaman yang unik dan kenangan yang dihargai.
2. Merencanakan pengalaman bermain
secara aktif
Membuat rencana untuk bermain secara aktif secara
berkala tidak memerlukan perjalanan jauh atau membelanjakan uang untuk kegiatan
atau benda mainan. Berikan dorongan kepada anan untuk menyiapkan ruang
bermainnya sendiri atau memilih apa yang akan dimainkan dari berbagai benda
mainan yang sederhana dan aktif. Orang tua dapat mengetahui kapan untuk
mengusulkan kegiatan bermain lainnya dengan menyaksikan anak ketika bermain
3. Sesekali ikut bermain bersama
anak, pahami dirinya, kegembiraan dan ketakutan dan kebutuhannya.
4. Membimbing dan mengawasi anak
dalam bermain, tetapi tidaKover
protective. Anak mungkin tidak tahu bahwa yang dilakukannya dalam pemainan
adalah perbuatan yang mungkin berbaghaya, karena itu mereka dibimbing.[22]
Sekalipun dunia anak adalah dunia bermain, namun
anak tetap membutuhkan peran orang tua untuk dapat berada dalam dunianya secara
aman dan nyaman. Dengan bermain, anak tidak hanya merasa senang melakukakannya,
tetapi dengan bimbingan yang tepat dari orang tua, potensi diri anak juga akan
berkembang.
2. Peran
Guru dalam Bermain
Peran guru dalam
kegiatan bermain di sekolah/kelas sangat penting. Guru harus dapat berperan
sebagai perencana, fasilitator, pengamat, model, dan sebagai teman dalam
kegiatan bermain anak agar kegiatan bermain menjadi lebih optimal.
a. Guru sebagai
perencana.
Sebagai perencana (designer),
guru harus harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
diintegrasikan dalam setiap permainan.Guru juga harus mampu merencanakan pengalaman
baru agar anak-anak terdorong untuk mengembangkan minatnya.[23]Misalnya,
ada orang tua yang pekerjaannya sebagai polisi diminta datang untuk berbagi
pengalaman dengan anak-anak, dan anak diberi kesempatan yang seluas-luasnya
untuk menanyakan berbagai hal yang terkait dengan tugas polisi tersebut.
Kegiatan semacam ini disebut pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar,
dan ini akan mampu membangkitkan motivasi belajar anak-anak sehingga mereka pun
akan bergairah belajar. Kegiatan seperti ini dapat dijadikan ajang untuk
mengawali kegiatan-kegiatan lain misalnya dilakukan sebelum sosiodrama atau
sebelum bermain peran.
Sebagai perencana
guru harus merencanakan suatu pengalaman yang baru agar murid-murid terdorong
untuk mengembangkan minat dan kemampuannya. Disini perencanaan yang disusun
guru meliputi hal-hal berikut:
1. Tujuan/ sasaran yang
ingin dicapai
2. Bentuk kegiatan
bermain yang dilakukan
3. Alat dan bahan yang
diperlukan (jenis dan jumlahnya)
4. Tempat kegiatan
tersebut akan dilakukan (di dalam atau di luar ruangan)
5. Alokasi waktu,
berapa lama waktu yang disediakan untuk kegiatan bermain tersebut.
6. Penilaian dan
evaluasi untuk mengetahui ketercapaian tujuan/ sasaran dan keberhasilan
pelaksanaan.[24]
Guru harus
merencanakan hal-hal tersebut minimal satu hari sebelum kegiatan dilaksanakan.
Pelaksanaan kegiatan bermain ini terpadu atau terintegrasi dengan kegiatan
belajar rutin.
b. Guru sebagai
fasilitator
Guru sebagai
fasilitator artinya guru harus memfasilitasi seluruh kebutuhan anak pada saat
bermain dan belajar berlangsung. Guru harus berperan aktif, kreatif dan
dinamis.[25]Apabila anak-anak ingin
bermain dengan air maka guru harus menyediakan berbagai peralatan yang
dibutuhkan untuk bermain dengan air jika anak-anak akan bermain peran maka
tugas gurulah untuk menyiapkan alat dan bahan untuk bermain peran.
Sebagai fasilitator, guru harus dapat
memberikan kemudahan kepada anak-anak dalam melakukan kegiatan bermain. Guru
harus menjelaskan aturan-aturan dalam setiap permainan, menjelaskan cara-cara
bermain dan memerankan sesuatu dalam permainan. Guru juga harus membantu
anak-anak yang mendapat kesulitan dalam melakukan permainan tertentu.Dalam pada
itu, guru harus mengkondisikan lingkungan yang dapat mendorong anak untuk
bermain sambil belajar serta mewujudkan standar kompetensi dan kompetensi dasar
dalam setiap bidang pengembangan.[26]
c. Guru sebagai
pengamat
Sebagai pengamat, guru harus melakukan
pengamatan terhadap setiap kegiatan anak, bagaimana interaksi antar anak maupun
interaksi anak dengan benda-benda di sekitarnya.Guru juga harus mengamati
lamanya anak melakukan suatu kegiatan bermain, jangan sampai anak terlalu asyik
dan kelamaan bermain.Demikian halnya mengamati anak-anak yang mengalami
kesulitan dalam bermain dan bergaul dengan temannya.[27]
d. Guru sebagai model
Anak usia taman kanak-kanak adalah masa meniru.
Oleh karena itu, sebagian besar kegiatan di TK dilaksanakan melalui peniruan
imitasi.[28]Sebagai model, guru harus
terjun langsung mengikuti kegiatan bermain yang sedang dilakukan anak-anak
sehingga mereka harus memahami berbagai aturan dari setiap permainan tersebut,
serta harus memahami berbagai aturan dari setiap permainan tersebut, serta
harus menghargai kegiatan bermain dan setiap permainan.[29]Dalam hal ini, guru harus berusaha menjadi bagian atau model dalam kegiatan
bermain anak, harus berusaha mencari kesempatan untuk duduk bersama anak.
e.
Guru sebagai motivator
Guru sebagai motivator
artinya guru harus dapat menjadi pendorong bagi anak untuk melakukan kegiatan
bermain. Guru mendorong anak untuk lebih aktif ketika bermain, mendorong anak
untuk melakukan eksplorasi, discovery, dan melakukan kegiatan-kegiatan
untuk mendapatkan penemuan-penemuan dan mendorong anak untuk menyalurkan rasa
ingin tahunya dan mencari jawaban atas rasa ingin tahunya tersebut, membangkitkan
semangat dan membujuk anak yang tidak mau bermain.[30]
Misalnya, ketika
bermain harta karun di area pasir. Guru memotivasi anak untuk berlomba dengan
semangat untuk menemukan harta sebanyak-banyak. Dorongan bisa dilakukan dengan
ucapan “ Ayo Adit, kamu pasti bisa menemukan banyak lagi”. Bisa pula dilakukan
dengan mengacungkan ibu jari pada anak yang baru saja menemukan satu harta
karun.
f.
Guru sebagai teman
Selain sebagai
pendidik guru juga harus dapat berperan sebagai teman/ sahabat bagi anak dalam
bermain. Dalam hal ini guru bertindak sebagai coplayer, artinya guru mempunyai peran yang setara
dengan anak. Sebagai seorang teman bermain, guru menempatkan diri sebagai teman
yang baik sehingga situasi bermain dan belajar menjadi akrab serta penuh
kesenangan dan kegembiraan. Jika hubungan guru dan anak terbentuk seperti
teman/ sahabat maka anak akan berlebih membuka diri pada gurunya. Hal ini dapat
membantu anak mengembangkan sosialisasinya dengan baik.
Guru sebagai teman/
sahabat berarti guru harus bersedia terjun berpartisipasi bermain bersama
anak-anak, berbaur dalam kegiatan yang dilakukan anak-anak. Disini guru jangan
melakukan instruksi/ perintah, tetapi mengikuti aturan yang dibuat oleh
anak-anak.Guru juga jangan cenderung mengalah karena anak juga perlu belajar
menerima kekalahan, jangan pula mau menang sendiri karena anak perlu
mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehan.Hal ini juga dapat membangkitkan
rasa percaya diri bagi anak-anak yang pemalu.
Misalnya,
ketika bermain drama tentang keluarga, guru ikut ambil bagian dengan memainkan
peran sebagai anak. Guru mengikuti aturan yang telah disepakati bersama. Di
antaranya, anak harus pergi ke sekolah anak harus tidur siang atau anak harus
minum susu. Dengan demikian, anak lebih bebas mengeluarkan ide-idenya karena
tidak merasa ada yang menilai kegiatan yang dilakukannya.
C.
Area Bermain
Alat- alat permainan yang diperlukan untuk
kegiatan bermain dan belajar di dalam kelas di susun menurut sifat dan tujuan
aktivitasnya dalam kelompok-kelompok yang disebut area kegiatan.Area kegiatan tersebut selalu berorientasi kepada anak sebagai pusat, bukan
orang dewasa/ guru.Setiap kali diharapkan agar anak selalu aktif dalam
mengikuti kegiatan baik yang bersifat kelompok (kelompok besar atau kelompok
kecil) maupun dalam kegiatan individual.[31]
Area kegiatan ini
diselenggarakan di TK dengan alat-alat permainan yang menarik dan dimaksudkan
untuk menimbulkan suasana yang menyenangkan dan keakraban antara sesama teman
sehingga anak merasa betah tinggal di sekolah. Adapun area bermain anak antara lain
sebagai berikut:
A. Alat-alat permainan
di area kegiatan di dalam kelas
1. Area Kesenian
Area ini diisi
dengan berbagai bahan yang memungkinkan anak akan melakukan percobaan,
eksplorasi, dan kreativitas lainnya. Area ini membawa suasana riang,
kegembiraan dan kepuasan bagi anak. Area ini hendaknya memberikan kesempatan
pada setiap anak untuk memilih kegiatan yang akan dilakukannya. Misalnya,
melukis, menggambar, memotong, menempel dan lain sebagainya.
Alat-alat yang dapat
digunakan di area ini adalah pensil warna, cat, gunting krayon, kapur tulis,
kain perca, arang, benang, kelereng, anyaman, lem, kuas, sikat gigi usang,
kapas plastisin, busa, spidol, majalah bekas, koran bekas, stik eskrim,
biji-bijian, kardus bekas dan sebagainya.[32]
2. Area Perpustakaan
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya
berbagai kerusakan area ini haruslah diletakkan sejauh mungkin dari kegiatan
yang dilakukan anak.Area ini perlu diisi dengan rak-rak buku, meja
dan kursi sesuai dengan kebutuhan yang ada.Di samping itu, perlu pula
disediakan suatu area tempat anak duduk secara santai.Area ini dapat pula
dilapisi dengan karpet dan dilengkapi dengan bantal-bantal kecil.Bagi sekolah
yang mampu, area ini juga dapat dilengkapi dengan dengan tempat untuk mendengarkan
cerita dengan menggunakan alat perekam.
Alat-alat yang dapat digunakan di sentra
perpustakaan antara lain adalah rak buku, meja, kursi, karpet, bantal-bantal
kecil, tape recorder, buku-buku yang dilengkapi dengan katalog dan kartu
peminjaman, poster, lukisan dan gambar-gambar lain yang memberikan informasi.
3. Area bermain drama
Area ini digunakan anak untuk kegiatan bermain
peran. Mereka berpura-pura berperan sebagai salah satu karakter dan terlibat
dengan perilaku menirukan peran orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
juga memupuk adanya pemahaman peran sosial yang melibatkan interaksi verbal
paling tidak dengan satu orang lain.
Penggunaan area ini
membantu anak untuk mempelajari lebih dalam mengenai dirinya sendiri,
keluarganya, dan masyarakat sekitarnya.Mereka menjalankan perannya berdasarkan
pengalamannya yang terdahulu.Mereka belajar memutuskan dan memilih berbagai
informasi yang relevan.Hal tersebut sangat membantu mereka dalam mengembangkan
kemampuan intelektualnya.Mereka juga banyak belajar dari temannya tentang
cara-cara berinteraksi dalam kondisi sosial dramatik.
Selain itu mereka juga
belajar berkonsentrasi dalam satu tema drama untuk waktu tertentu.Area ini juga
memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan sosial dan
emosionalnya, seperti mengatasi rasa takut dengan memberikan peran berbagai
tokoh yang sebenarnya bagi mereka menakutkan.Misalnya, seorang anak yang takut
disuntik memerankan tokoh sebagai pasien.
Alat-alat yang dapat digunakan di area bermain
drama antara lain perabotan dapur, lemari, meja kursi, meja makan, boneka,
kostum binatang/ profesi dan lain-lain, celemek, tas, topi, helm, sarung
tangan, setrika, sepatu, sandal, alat-alat make-up mainan, telepon, vas bunga,
ember, cermin genggam, taplak/seprei ukuran sedang, berbagai majalah, kalender,
gambar/poster, boneka tangan/jari, berbagai peralatan kerja mainan (martil,
obeng, dan lain-lain), alat-alat tulis dan potongan kertas untuk menulis pesan
dan sebagainya.
4. Area musik
Musik adalah sumber
yang sangat kaya untuk memajukan perkembangan anak. Di mana pun, kapan pun
dengan budaya mana pun musik dapat digunakan sepanjang hari untuk menyatukan
kegiatan pembelajaran, misalnya dengan bernyanyi, menggerakkan badan, bertepuk
tangan, menari, memainkan alat-alat musik atau menyimak dengan tenang. Musik
mengembangkan panca indera, mengajarkan ritme, berhitung dan pola kalimat,
memperkuat otot halus dan kasar, serta mendorong kreativitas.Sebaiknya area ini
ditempatkan agak jauh dari area-area lainnya.Bagi sekolah yang mampu biasanya
menyediakan ruangan khusus untuk kegiatan musik.
Alat-alat yang
digunakan di area musik, antara lain piano, gitar, angklung, alat-alat perkusi,
alat musik buatan guru (marakas dari kaleng bekas) dan lain-lain. Juga dapat
menggunakan bahan dari alam/ lingkungan sekitar, seperti batu, batok kelapa,
botol air mineral, sendok, ember, tutup panci, kardus bekas, dan sebagainya.[33]
5. Area permainan balok
dan Logo/Lego
Balok sangatlah
berarti bagi anak Taman Kanak-kanak bahkan untuk semua anak dengan berbagai
tingkat usia. Dengan balok anak dapat membangun berbagai gedung.Logo/lego
merupakan pengembangan dari balok yang dapat dibuat menjadi berbagai bentuk
yang diinginkan anak, seperti mobil, kapal terbang, gerobak.Penempatan balok
dan lego/ logo hendaklah pada posisi yang mudah diambil anak.Sebaiknya
benda-benda tersebut ditempatkan pada gerobak kecil/ kotak yang beroda sehingga
dapat ditarik dengan mudah oleh anak.Permainan balok/ logo/lego sangat penting
bagi perkembangan anak di berbagai bidang termasuk bahasa, sosial, pengetahuan,
matematika, dan kemampuan motorik.
Alat-alat yang
digunakan pada area balok, antara lain adalah balok berbagai ukuran, lego,
logo, kubus, kardus bekas, rambu-rambu lalu lintas, binatang-binatangan,
mobil-mobilan, balok kardus, dan sebagainya. Balok-balok yang terdiru dari
balok kardus dan balok kayu dan balok warna-warni adalah alat main konstruksi
yang sangat disukai anak-anak.
6. Area Permainan
matematika
Dalam area ini anak
sedapat mungkin diperkenalkan dengan pemikiran mengapa matematika dibutuhkan
(bahwa matematika bukan sekedar permainan angka), apa hubungannnya dengan
kehidupan sehari-hari mereka, dan penggunaanya untuk kehidupan mereka. Dalam
area permainan matematika anak harus diberi kesempatan bereksplorasi dengan
cara mencocokkan, berhitung, mengelempokkan, membandingkan, memperkirakan, dan
sebagainya.
Alat-alat yang
digunakan di area ini antara lain kartu-kartu angka, tutup botol, kerang,
bahan-bahan sisa, batu-batuan, biji-bijian, menara gelang, papan hitung, tangga
kubus, manik-manik, mozaik, balok ukur, papan paku, papan pasak, balok kecil,
aneka binatang plastik, papan geometri, tangga silinder, tusuk gigi, puzzle,
buah-buahan dengan berbagai jenis dan ukuran, kotak bentuk/pos, dan berbagai
benda lainnya yang memberikan pengalaman aktual kepada anak.
7.
Area IPA/ Sains
Lingkungan alam dan
lingkungan fisik sangat menarik bagi anak-anak. Dengan mengembangkan kemampuan
untuk mengamati, berkomunikasi, membuat dugaan berdasarkan pengamatan,
prediksi, anak akan mempunyai pengertian yang lebih baik tentang berbagai
gejala alam. Berbagai pengalaman sehari-hari membutuhkan pengujian dan
pemecahan/pengambilan kesimpulan.Area inipun mencerminkan minat anak terhadap
kejadian-kejadian alam.Tempat ini kerap berubah-ubah sesuai dengan minat,
perubahan musim, dan topik pelajaran.
Alat-alat yang
digunakan di area ini berdasarkan topik aktivitasnya antara lain berikut ini:
a. Makhluk hidup:
menanam bibit, mengamati binatang peliharaan, pengamatan, dan percobaan
menggunakan berbagai jenis telur (mentah
dan matang), kecebong, percobaan polusi, pengamatan serangga dan lain-lain.
b. Binatang: pengamatan
berbagai binatang yang dibawa kedalam lingkungan kelas, seperti semut, ulat,
ayam, burung, cacing, ikan, kura-kura, katak, kelinci/marmut, cecak, keong,
jangkrik, kupu-kupu, dll. Pengamatan berbagai tulang binatang mamalia, dan
lain-lain.
c. Tumbuhan: menanam
biji-bijian/bibit, mengadakan berbagai eksperimen tentang hal-hal yang dibutuhkan
tanaman untuk tumbuh, misalnya matahari, air, sarana tumbuh tanah. Mengamati
tumbuhan kecil, daun, berbagai buah dan bijinya, sayur-sayuran dan berkebun.
d. Berbagai benda:
pasir, tanah, hujan, air, logam, tulang, batu-batuan, kayu, dan lain-lain
e. Energi: sinar,
bayang-bayang dalam cermin, magnet, kaca pembesar, cuaca dan musim, berbagai
mesin rakitan sederhana, seperti sepeda, jam dinding dan lain-lain.
f. Ruang dan waktu:
matahari, bulan, bintang, ruang angkasa, bayangan matahari/lampu, dan
lain-lain.
8. Area Agama
Area ini untuk
menanamkan pada anak-anakpada nilai-nilai moral, agama dan budi
pekerti.Alat-alat yang digunakan diarea agama antara lain maket-maket rumah
ibadah, peralatan ibadah, gambar/poster bacaan/doa, gambar/poster yang
menunjukkan nilai-nilai moral/budi pekerti dan sebagainya.
B. Alat-alat permainan
di area kegiatan di luar kelas
1. Area memanjat
Peralatan memanjat
dapat digunakan oleh anak dari segala tingkat usia. Di bawah tempat memanjat
perlu disediakan bahan-bahan lembut seperti busa, matras, pasir.Kegunaanya
adalah untuk menghindari kemungkinan anak jatuh dan mendapat cedera.
Hal-hal yang perlu
diperhatikan pada waktu anak memanjat adalah:
a. Anak tidak dibiarkan
memanjat sementara tangannya memegang suatu benda;
b. Anak secara
bergantian dalam melakukan kegiatan ini;
c. Anak tidak dibiarkan
memanjat selain pada area yang diperbolehkan untuk memanjat.
Alat-alat
yang dapat digunakan di area memanjat, antara lain adalah pohon, tambang/tali,
palang bertingkat, jaring laba-laba, dan lain-lain.
2. Area bermain pasir
dan air
Sejak balita,
anak-anak menikmati kegairahan bermain dengan pasir dan air.Pada awalnya mereka
bereksplorasi tanpa menggunakan alat yang banyak, lama kelamaan mereka biasa
bermain dengan alat yang lebih rumit.
Alat-alat yang dapat
digunakan di area ini, antara lain bak air, bak pasir, sekop, botol, literan,
cangkir, mobil-mobilan, binatang, gelas berbagai ukuran, busa, berbagai cetakan
plastik beraneka bentuk, dan sebagainya.
3. Area melempar dan
menangkap
Untuk kegiatan
melempar dan menangkap dapat digunakan berbagai jenis bola.Bola lainnya perlu
disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga dapat digunakan anak secara
bebas. Alat-alat yang digunakan di area ini, antara lain bola kaki, bola basket,
bola kasti, kantong biji.[34]
4.
Area olahraga/ jasmani
Aktivitas di area
ini dilakukan dengan membentuk pos-pos kegiatan untuk menghindari antrian anak
terlalu panjang, sementara peralatan yang dimiliki terbatas. Alat-alat yang
digunakan di area ini, antara lain simpai, papan titian, karet, kardus bekas,
tali, lantai, ban bekas.
Selain itu, masih ada beberapa alat
bermain lain yang biasanya juga ada di luar kelas yaitu ayunan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bermain ialah setiap
kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan , tanpa mempertimbangkan hasil akhir
serta dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar
atau kewajiban.Kegiatan bermain memiliki peran yang sangat
penting bagi perkemabangan anakyaitu
bermain dapat memicu kreativitas, mencerdaskan otak, menanggulangi konflik, melatih
empati anak, mengasah panca indra, sebagai media terapi (pengobatan) dan
melalui bermain berarti anak melakukan penemuan.
Semua
aspek perkembangan tersebut menunjang pemahaman orang dewasa untuk menyadari
mengapa bermain itu penting karena perlu dikembangkan dalam program pendidikan
anak.Untuk itu dibutuhkan peranan orang dewasa sebagai perencana,
fasilitator, pengamat, model, dan sebagai teman dalam kegiatan bermain anak
agar kegiatan bermain menjadi lebih optimal.
Untuk
mengoptimalkan kegiatan bermain anak, dibutuhkan alat-alat permainan yang
diperlukan dalam menunjang kegiatan bermain yang disusun menurut sifat dan tujuan aktivitasnya
dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan area kegiatan. Area kegiatan ini diselenggarakan di TK dengan alat-alat permainan
yang menarik dan dimaksudkan untuk menimbulkan suasana yang menyenangkan dan
keakraban sehingga kegiatan bermain anak dapat terfasilitasi dengan baik.
.
B. Saran
Hendaknya kita sebagai guru
dan orang tua memahami tentang peran
bermain bagi anak usia dini, peran orang dewasa dalam kegiatan bermain anak
serta area bermain agar semua semua aspek perkembangan anak dapat berkembang
dengan optimal melalui kegiatan bermain
Jika didalam makalah
terdapat kekurangan dan kesalahan di dalam penulisan , kami mohon ma’af. Dan
jika ada kritik dan saran dari Dosen
pembimbing dan teman-teman kami persilakan karena untuk menyempurnakan makalah
kami ini.
Dadan
Suryana, 2013. Pembelajaran Anak Usia Dini (teori dan praktek pembelajaran),Padang
:UNP Press
Departemen
Pendidikan Nasional, 2003.Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Hendra
Sofyan, 2015. Perkembangan Anak Usia Dini dan Cara Praktis Peningkatannya,
Jakarta: CV.Infomedika
Masnipal,
2013.Siap Menjadi Guru dan Pengelola PAUD ProfesionalJakarta: PT. Elex
Media Komputindo
Moh
Anis, 2009. Sukses Mendidik Anak;
Perspektif Al-Qur’an dan Hadist, (Yogyakarta: Insan Madani
Montolalu,
2005.Bermain dan Permainan Anak (Jakarta: Universitas Terbuka
Mulyasa,
2012.Manajemen PAUD, Bandung:
Rosdakarya
M.
Fadlillah, dkk, 2014. Edutainment Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta:
Kencana
M.
Nur Abdul Hafizh Suwaid, 2010. Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak, Yogyakarta:
Pro U Media
Sandra
J Stone, 1993. Playing Akids Curriculum. USA: Harper Collin Publishers
Yulani
Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono, 2010.Berman Kreatif Berbasis Kecerdasan
Jamak, jakarta: PT Indeks
Yuliani
Nurani Sujiono, 2011. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini Jakarta:
Indeks
|
[1]Novan Ardy Wiyani dan Barnawy, Format PAUD, (Jakarta:Ar-Ruzz
Media, 2012), hal.32.
[2]Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hal. 3.
[3]Departemen Agama Republik Indonesia,Alquran dan Terjemahannya,(Bandung: Diponegoro, 2006),hal. 62.
[6]B.E.F Montololu,
dkk, Bermain dan Permainan Anak, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007)
hal 1.19-1.22.
[9] Yuliani Nurani Sujiono, Konsep
Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, ( Jakarta: PY. Indeks, 2011), hal. 134.
[12]Imam Musbikin. Op. Cit. hal.
72.
[15]Yuliani Nurani Sujiono, Loc. Cit.,
hal. 134
[21]Imam Musbikin, Op. Cit., hal. 77.
[22]Department of Health and Ageing, Peranan Orang Tua Ketika Anak-Anak Bermain
secara Aktif (The Role of parents in children’s active play), (Jakarta:
Rosdakarya, 2010), hal. 2.
[23] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan
Anak Prasekolah, (Jakarta: PT. Rineke Cipta, 2008), hal. 109.
[31]B.E.F Montololu. Op. Cit. hal. 5.18.
[32]Diana Mutiah. Psikologi Bermain Anak Usia Dini, (Jakarta:
Prenada Media Group, 2010), hal. 129.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar