Kamis, 01 September 2016

PERAN DAN AREA BERMAIN ANAK USIA DINI



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai dengan usia 6 tahun.[1]Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa ini semua potensi yang dimiliki oleh anak berkembang dengan sangat cepat. Oleh karena itu pada masa usia dini merupakan periode yang tepat dalam memberikan rangsangan pendidikan.
            Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 menyebutkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.[2]
Pendidikan Anak Usia Dini sangat menentukan kesuksesan seseorang dimasa depan. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 9 yaitu:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya: “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepadaAllah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. An-Nisa’: 9)[3]
Al Qur’an Surat An Nisa’ Ayat 9 menjelaskan  agar umat Islam menyiapkan generasi penerus yang berkualitas sehingga anak mampu mengaktualisasikan potensinya sebagai bekal kehidupan dimasa mendatang.Salah satu cara untuk mengaktualisasi potensi yang dimiliki oleh anak yaitu dengan menyediakan layanan pendidikan melalui proses pembelajaran yang menyenangkan, yaitu melalui bermain.
Dunia anak merupakan dunia bermain sehingga antara anak dan bermainmerupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Bermain merupakankegiatan yang terjadi secara ilmiah pada anak.Bermain merupakan kegiatan atau aktivitasyang dilakukan melalui cara yang menyenangkan dan untuk mendapatkankesenangan.[4]
Rasululloh saw adalah teladan yang baik baik dalam segala hal. Beliau bermain dengan cucu-cucu beliau, anak-anak para sahabat; beliau bercanda dengan mereka, menghibur dan mendorong mereka untuk bermain dan menghibur diri dengan permainan yang dibolehkan. Abdullah bin al-Harits Ra. meriwayatkan sebuah hadis:Rasululloh Saw, membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan Kutsair Ibnu Abbas Ra. Kemudian beliau berkata,” Siapa yang lebih dulu sampai kepadaku, maka baginya ini dan ini (hadiah)”. Abdullah dan Haritsah berkata, “ Maka anak-anak tersebut bersaing lari kepada Rasululloh Saw sehingga ada yang terjatuh kepunggung, dada beliau, beliau merangkul dan memangku semuanya.” (HR. Ahmad).
Bertitik tolak dari perhatian Nabi Saw terhadap pemberian kesempatan untuk bermain kepada anak-anak, para ahli pendidikan Islam menyerukan untuk memenuhi kebutuhan anak akan bermain, bercanda dan beristirahat.[5]Ada banyak hal yang diperoleh anak melalui bermain yaitu bermain dapat memicu kreativitas, mencerdaskan otak, menanggulangi konflik, melatih empati anak, mengasah panca indra, sebagai media terapi (pengobatan) dan melalui bermain berarti anak melakukan penemuan.[6]
Peran bermain yang sangat besar bagi perkembangan anak seperti yangtelah diuraikan tersebut menjadikan bermain sebagai alat belajar utama danmerupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan diri anak. Hal tersebut memberikan penekananbahwa dalam pemberian stimulasi pada anak usia dini sebaiknya menggunakanpendekatan bermain. Pemberian stimulasi pada anak, termasuk melalui pendekatan bermain,seyogyanya dapat diberikan sejak dini karena menurut beberapa ahli 80% potensihidup manusia terbentuk ketika usia dini yaitu pada kisaran usia 0-8 tahun.
Pemberian stimulasi pada anak tersebut merupakan tugas bagiorang dewasa. Peran serta orang dewasa dalam kehidupan anakmemberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan anak, salah satunya adalah peranorang tua dan guru terhadap bermain anak.Adanya keterlibatan orang tua dan guru tersebut akan mengoptimalkan kegiatan bermain anak sehingga aspek-aspek perkembangan dan kemampuannya dapat berkembang secara optimal dan siap untuk mencapai tingkat perkembangan selanjutnya.
Untuk mengoptimalkan kegiatan bermain anak, dibutuhkan alat-alat permainan yang diperlukan dalam menunjang kegiatan bermain. Alat-alat permainan tersebut disusun menurut sifat dan tujuan aktivitasnya dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan area kegiatan.[7] Area kegiatan ini diselenggarakan di Taman Kanak-kanak dengan alat-alat permainan yang menarik dan dimaksudkan untuk menimbulkan suasana yang menyenangkan dan penuh dengan keakraban. Oleh karena itu, perlu sekali bagi kita baik guru maupun orang tua untuk memahami peran bermain, peran orang dewasa dalam bermain serta area-area dalam bermain agar kegiatan bermain anak dapat terstimulasi dengan baik sehingga aspek-aspek perkembangannya dapat berkembang dengan optimal.
B.   Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah peran bermain bagi anak?
2.    Bagaimanakah peran orang dewasa dalam bermain?
3.    Apasajakah area bermain untuk anak?
C.   Tujuan Makalah
1.    Untuk mengetahui peran bermain.
2.    Untuk mengetahui peran dewasa dalam bermain.
3.    Untuk mengetahui area bermain untuk anak.
















BAB II
PEMBAHASAN

A.   Peran Bermain
Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Artinya, setiap anak dilahirkan dalam keadaan memiliki karakter asli dan potensi. Selanjutnya adalah tugas orang dewasa untuk menjadikan anak menjadi pribadi yang tetap fitrah sampai dengan mereka dewasa kelak. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 30 sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚفِطْرَتَ الَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚلَا
تَبْدِيلَ لِخَلْقِ الَّهِ ۚذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: 30)
Surat Ar-rum ayat 30 menjelaskan tentang manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan fitrah  sesuai dengan prinsip penciptaan danpotensi yang suci murni. Akal manusia itu seakan-akan lembaran yang putih bersih dan siap untuk menerima tulisan yang akan di tuangkan di atasnya, dan ia seperti lahan yang dapat menerima semua apa yang akan ditanamkan kepadanya. Jiwa manusia itu tidak akan mengganti fitrah yang baik ini dengan pendapat-pendapat yang dapat merusakkannya melainkan adanya seorang guru yang mengajarinya. Demikian pula akal, ia tidak akan terkena pengaruh melainkan dari faktor luar yang menyesatkan tanpa ia sadari.
Untuk mendidik dan mengembangkan segenap potensi yang ada pada anak secara optimal sesuai dengan kemampuan bawaannya, orang tua memerlukan fasilitas dan sarana pendukung dalam berbagai bentuk dan dilakukandalam suasana yang menyenangkan. Salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan bermain anak, karena dunia anak merupakan dunia bermain, dan bermain adalah hal yang menyenangkan bagi anak. 
Bermain ialah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan , tanpa mempertimbangkan hasil akhir serta dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban.[8]Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan anak secara spontan karena disenangi, dan sering tanpa tujuan tertentu.
Docket dan Fleer berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermainanak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya.[9]Melalui bermain, anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan lingkungan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna (bermanfaat) bagi anak.[10]
Hasil penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan menyatakan bahwa bermain bagi anak-anak mempunyai arti yang sangat penting karena melalui bermain anak dapat menyalurkan segala keinginan dan kepuasan, kreativitas dan imajinasinya.[11]Melalui bermain anak dapat melakukan kegiatan-kegiatan fisik, belajar bergaul dengan teman sebaya, membina sikap hidup positif, mengembangkan peran sesuai dengan jenis kelamin, menambah perbendaharaan kata, dan menyalurkan perasaan tertekan.Bermain juga memilki peranan yang besar bagi perkembangan anak secara keseluruhan.
Adapun peran bermain bagi anak antara lain:
1.    Bermain Memicu Kreativitas
Setiap anak memilki bakat kreatif. Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Ditinjau dari segi pendidikan, bakat kreatif dapat dikembangkan, dan karena itu perlu dipupuk sejak dini. Bila bakat kreatif anak tidak dipupuk, maka bakat itu tidak akan berkembang bahkan menjadi bakat terpendam dan tidak dapat diwujudkan.[12]
Kreativitas dapat dipandang sebagai suatu aspek dari pemecahan masalah yang mempunyai akar dalam bermain.Saat anak menggunakan daya khayalnya dalam bermain, dengan atau tanpa alat, mereka lebih kreatif.[13]Dalam lingkungan bermain yang aman dan menyenangkan, bermain memicu anak menemukan ide-ide dan menggunakan daya khayalnya.Hasil penelitian mendukung dugaan bahwa bermain dan kreativitas saling berkaitan karena baik bermain maupun kreativitas mengandalkan kemampuan anak menggunakan simbol-simbol.
2.    Bermain berperan mencerdaskan otak
Usiadini memegang peranan yang sangat besar dan penting karena perkembangan otak manusia mengalami lompatan dan berkembang sangat pesat pada usia tersebut, yakni mencapai 80%. Ketika dilahirkan kedunia, anak manusia telah mencapai perkembangan otak 25%, sampai usia 4tahun perkembangannya mencapai 50%, dan sampai usia 8 tahun mencapai 80%, selebihnya berkembang sampai usia 18 tahun.[14] Ini berarti berarti anak usia dini memiliki masa perkembangan otak yang dahsyat dan perlu mendapat stimulasi yang optimal, salah satunya melalui bermain.
Bermain merupakan sebuah media yang sangat penting bagi proses berpikir anak. Bermain membantu perkembangan kognitif anak.Vygotsky dalam Naughton percaya bahwa bermain membantu perkembangan kognitif anak secara langsung.[15]Bermain memberikan kontribusi pada perkembangan intelektual atau kecerdasan berpikir dengan membukakan jalan menuju berbagai pengalaman yang tentu saja memperkaya cara berpikir mereka.
3.    Bermain berperan menanggulangi konflik
Pada anak usia TK tingkah laku yang sering muncul ke permukaanadalah tingkah laku menolak, bersaing, agresif, bertengkar, meniru, kerja sama, egois, simpatik, marah, ngambek, dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka.[16]Apabila kita teliti maka lebih banyak perilaku anak yang asosial yang tampil pad periode ini daripada tingkah laku yang prososial. Dapat dimengerti bahwa periode ini konflik tak dapat dihindarkan.
Semua tingkah laku yang disebutkan di atas, diperlukan pemunculannya justru untuk mengarahkan anak-anak yang asosial dan egoistis menjadi makhluk-makhluk sosial.TK memberikan ruang bagi anak melalui bermain dalam kelompok besar maupun kelompok kecil untuk mengatasi konflik yang terjadi.Sandiwara boneka, bermain dramatisasi bebas dan bercerita dengan berbagai metode merupakan beberapa kegiatan bermain yang dimaksud.
4.    Bermain berperan untuk melatih empati
Empati adalah pengenalan perasaan, pikiran dan sikap orang lain, dapat juga dikatakan pengenalan jiwa orang lain. Dengan kata lain, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau kelompok lain.[17]
Empati merupakan suatu faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati anak dapat merasakan penderitaan orang lain. Dengan mengembangkan empati anak akan pandai menempatkan dirinya, perasaan pada diri, perasaan pada orang lain dan mengembangkan tenggang rasa. Melalui bermain sandiwara boneka atau dramatisasi terpimpin sikap empati dapat dikembangkan di TK.

5.    Bermain berperan mengasah pancaindra
Kelima indra, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengucapan dan perabaan merupakan alat-alat vital yang perlu diasah sejak anak masih bayi. Tujuannya tentu saja agar anak menjadi lebih tanggap dan lebih peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya. Ketajaman penglihatan dan pendengaran sangat penting dan sangat dibutuhkan anak usia TK sehingga perlu segera dikembangkan karena akan membantu anak lebih mudah belajar mengenal dan mengingat bentuk simbol-simbil tulisan yang akan membantu anak membaca dan menulis di SD. Banyak jenis permainan TK yang menunjang perkembangan kepekaan pancaindera, seperti permainan kotak aroma untuk latihan penciuman, permainan suara apa untuk latihan indera pendengaran, gambar-gambar di buku untuk latihan indera penglihatan, nyanyian apa rasanya dan permainan merasakan berbagai rasa makanan dengan mata tertutup untuk melatih indera pengecapan.
6.    Bermain sebagai media terapi (pengobatan)
Sigmund Freud, bapak psikoanalisis mengemukakan bahwa anak menggunakan bermain sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah konflik dan kecemasannya.[18]Berawal dari teori ini para ahli ilmu jiwa mendapat ilham untuk menggunakan bermain sebagai alat diagnosis mengobati anak yang bermasalah, yang dikenal di kalangan para ahli dengan terapi bermain.Namun, tidak semua orang dapat melakukannya karena ini memerlukan keahlian khusus untuk itu.
7.    Bermain itu melakukan penemuan
Ini artinya bermain dapat menghasilkan ciptaan baru. Anak mana pun, usia berapa pun, saat bermain sedang menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah diciptakan sebelumnya.[19]Menurut Conny R. Semiawan, melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan bermain secara bebas, anak dapat berekspresi dan dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal baru yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru.[20]
Anak akan bertanya jika ada sesuatu yang ia butuhkan/ pahami saat bermain. Bagi guru yang berpengalaman, anak-anak yang bermain sering dilihat, seperti sedang melakukan penemuan-penemuan setiap waktu. Penemuan tersebut bisa saja kebetulan, seperti dalam bermain di bak air, ketika anak pertama kali menemukan bahwa jumlah air yang sama dapat mengisi tiga wadah yang sama besar atau sebuah sebuah wadah besar dan wadah kecil. Apabila air dituang ke wadah, seperti botol ada caranya, air apabila dipukul dengan tangan akan memercikkan kemana-mana, lain dengan pasir. Penemuan baru ini sangat menyenangkan anak.
B.   Peran Orang Dewasa dalam Bermain
1.    Peran Orang Tua dalam Bermain
Pada suatu hari Rasulloh Saw mempercepat dua rakaat terakhir dari sholat zuhurnya.melihat kejadian ini para sahabat terheran-heran. Setelah selesai salam, salah seorang tampil bertanya, apa yang terjadi dengan sholat kita wahai Rasul?
“Memangnya ada apa?” Nabi balik bertanya.
“Singkat sekali dua rakaat yang terakhir?
“ Apakah kalian tidak mendengar tangisan anak-anak?”
Berkaitan dengan peristiwa ini Anas Ra. Pernah meriwayatkan hadis berikut:
“Rasulullah Saw pernah mendengar tangisan anak kecil bersama ibunya ketika Baginda sedang sembahyang, lalu Baginda pun membaca surat yang sedikit ayatnya atau surat yang pendek.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah,dan Ahmad)
“Sesungguhnya saya pernah akan melakukan sholat,dan saya bermaksud memperpanjang dan memperlama sholat saya tersebut. Lalu saya mendengar suara tangisan bayi, maka saya pun mempercepat dan memperpendek sholat saya,sebab saya tahu ibunya malah gembira dengan tangisan anak tersebut.”(HR.Bukhari dan Muslim)
Ada peristiwa lainnya ketika Rasululloh naik ke atas mimbar untukber khutbah dihadapan banyak orang. Tiba-tiba, beliau melihat Hasan dan Husain berlari-lari hingga terjatuh. Maka, beliau memutuskan dan menghentikan khutbahnya, kemudian turun dan pergi mendatangi keduanya. Keduanya diletakkan di tangannya, kemudian naik lagi ke atas mimbar dan bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya harta kekayaan dan anak-anak kalian hanyalah cobaan bagimu. Demi Allah, saya melihat kedua anak saya ini (maksudnya disini adalah cucu) berlari-lari dan tergelincir jatuh. Maka, saya tidak kuasa (menahan perasaan saya) sehingga saya harus turun dan mengangkat keduanya.”(HR. Tirmidzi)
            Demikianlah beberapa riwayat yang menggambarkan tentang pengajaran Nabi Muhammad Saw menyangkut cinta dan perhatiannya terhadap anak-anak. Nabi Muhammad Saw melihat bahwa anak memiliki dunianya sendiri. Mencintainya adalah menumbuhkembangkan bakat dan kepribadiannya.
            Dunia anak adalah dunia permainan. Dengan bermain, ayah, ibu atau siapapun dapat mendidiknya. Karena itulah Rasulullah Saw. menekankan pentingnya bermain bersama anak. Beliau berkata, “Siapa yang memilki anak hendaklah ia bermain bersamanya.” Da;am hadis lain beliau bersabda:
            “Siapa yang menggembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau untuk menyenangkan hatinya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah.”[21]
Peranan orang dewasa sangatlah penting dalam kegiatan bermain anak. Menjadi teladan untuk gaya hidup aktif sama pentingnya dengan memberikan anak waktu, ruang dan bahan untuk bermain. Anak-anak belajar dari melihat, mendengarkan dan meniru apa saja yang terjadi di sekitarnya. Ketika anak melihat bahwa orang tua aktif, anak akan sering ingin ikut serta dan mencoba kegiatan pergerakan yang sama seperti yang dilakukan orang tuanya.
Orang tua tidak harus selalu terlibat dalam permainan anak. Namun, orang tua harus mengawasinya terutama jika anak-anak sedang bermain dengan benda mainan baru atau diruang bermain yang menantang. Yang, penting anak merasa senang dengan apa yang dilakukan ketika ia aktif. Lingkungan keluarga memainkan peranan yang amat penting dalam membantu anak-anak menikmati kegiatan fisik. Adakalanya orang tua dapat menjadi rekan favorit anak, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Penting untuk bersikap positif pada anak, pujian orang tua dan dorongan untuk mencoba cara-cara baru untuk bergerak. Tunjukkan kepada anak bahwa orang tua juga senang menjadi aktif. Bahkan, sebelum anak dapat berjalan atau berbicara, berikan peluang berkala untuk bergerak secara bebas dan berinteraksi dengan orang lain membentuk dasar keterampilan fisik, sosial, dan intelektual seumur hidup.
Pergerakan bebas dan permainan yang di pandu anak-anak merupakan bentuk terbaik kegiatan fisik untuk anak. Memberikan banyak peluang kepada anak menciptakan permainan dan kegiatan mereka sendiri merupakan cara yang menyenangkan dan sesuai bagi anaku untuk tumbuh. Peran orang tua dalam kegiatan bermain anak sebagai berikut:


1.    Memberikan pilihan untuk bermain secara aktif
Keterampilan bergerak dasar seperti melempar, melompat, berlari, menari dan menjaga keseimbangannya semuanya dapat dicoba dengan benda bermain sederhana seperti kotak, lingkaran, periuk dan panci, penyapu, kayu, dan ban. Benda mainan tidak harus selalu merupakan barang mainan. Membuat benda mainan dari benda sehari-hari anak dengan anak merupakan kegiatan yang menyenangkan dan mudah untuk dilakukan bersama-sama. Ruang bermain yang biasa seperti halaman belakang, padang rumput, lumpur, dan pohon tumbang juga dapat memberikan pengalaman yang unik dan kenangan yang dihargai.
2.    Merencanakan pengalaman bermain secara aktif
Membuat rencana untuk bermain secara aktif secara berkala tidak memerlukan perjalanan jauh atau membelanjakan uang untuk kegiatan atau benda mainan. Berikan dorongan kepada anan untuk menyiapkan ruang bermainnya sendiri atau memilih apa yang akan dimainkan dari berbagai benda mainan yang sederhana dan aktif. Orang tua dapat mengetahui kapan untuk mengusulkan kegiatan bermain lainnya dengan menyaksikan anak ketika bermain
3.    Sesekali ikut bermain bersama anak, pahami dirinya, kegembiraan dan ketakutan dan kebutuhannya.
4.    Membimbing dan mengawasi anak dalam bermain, tetapi tidaKover protective. Anak mungkin tidak tahu bahwa yang dilakukannya dalam pemainan adalah perbuatan yang mungkin berbaghaya, karena itu mereka dibimbing.[22]
Sekalipun dunia anak adalah dunia bermain, namun anak tetap membutuhkan peran orang tua untuk dapat berada dalam dunianya secara aman dan nyaman. Dengan bermain, anak tidak hanya merasa senang melakukakannya, tetapi dengan bimbingan yang tepat dari orang tua, potensi diri anak juga akan berkembang.
2.    Peran Guru dalam Bermain
Peran guru dalam kegiatan bermain di sekolah/kelas sangat penting. Guru harus dapat berperan sebagai perencana, fasilitator, pengamat, model, dan sebagai teman dalam kegiatan bermain anak agar kegiatan bermain menjadi lebih optimal.
a.    Guru sebagai perencana.
Sebagai perencana (designer), guru harus harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang diintegrasikan dalam setiap permainan.Guru juga harus mampu merencanakan pengalaman baru agar anak-anak terdorong untuk mengembangkan minatnya.[23]Misalnya, ada orang tua yang pekerjaannya sebagai polisi diminta datang untuk berbagi pengalaman dengan anak-anak, dan anak diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menanyakan berbagai hal yang terkait dengan tugas polisi tersebut. Kegiatan semacam ini disebut pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar, dan ini akan mampu membangkitkan motivasi belajar anak-anak sehingga mereka pun akan bergairah belajar. Kegiatan seperti ini dapat dijadikan ajang untuk mengawali kegiatan-kegiatan lain misalnya dilakukan sebelum sosiodrama atau sebelum bermain peran.
Sebagai perencana guru harus merencanakan suatu pengalaman yang baru agar murid-murid terdorong untuk mengembangkan minat dan kemampuannya. Disini perencanaan yang disusun guru meliputi hal-hal berikut:
1.    Tujuan/ sasaran yang ingin dicapai
2.    Bentuk kegiatan bermain yang dilakukan
3.    Alat dan bahan yang diperlukan (jenis dan jumlahnya)
4.    Tempat kegiatan tersebut akan dilakukan (di dalam atau di luar ruangan)
5.    Alokasi waktu, berapa lama waktu yang disediakan untuk kegiatan bermain tersebut.
6.    Penilaian dan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian tujuan/ sasaran dan keberhasilan pelaksanaan.[24]
Guru harus merencanakan hal-hal tersebut minimal satu hari sebelum kegiatan dilaksanakan. Pelaksanaan kegiatan bermain ini terpadu atau terintegrasi dengan kegiatan belajar rutin.
b.    Guru sebagai fasilitator
Guru sebagai fasilitator artinya guru harus memfasilitasi seluruh kebutuhan anak pada saat bermain dan belajar berlangsung. Guru harus berperan aktif, kreatif dan dinamis.[25]Apabila anak-anak ingin bermain dengan air maka guru harus menyediakan berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk bermain dengan air jika anak-anak akan bermain peran maka tugas gurulah untuk menyiapkan alat dan bahan untuk bermain peran.
Sebagai fasilitator, guru harus dapat memberikan kemudahan kepada anak-anak dalam melakukan kegiatan bermain. Guru harus menjelaskan aturan-aturan dalam setiap permainan, menjelaskan cara-cara bermain dan memerankan sesuatu dalam permainan. Guru juga harus membantu anak-anak yang mendapat kesulitan dalam melakukan permainan tertentu.Dalam pada itu, guru harus mengkondisikan lingkungan yang dapat mendorong anak untuk bermain sambil belajar serta mewujudkan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam setiap bidang pengembangan.[26]
c.    Guru sebagai pengamat
Sebagai pengamat, guru harus melakukan pengamatan terhadap setiap kegiatan anak, bagaimana interaksi antar anak maupun interaksi anak dengan benda-benda di sekitarnya.Guru juga harus mengamati lamanya anak melakukan suatu kegiatan bermain, jangan sampai anak terlalu asyik dan kelamaan bermain.Demikian halnya mengamati anak-anak yang mengalami kesulitan dalam bermain dan bergaul dengan temannya.[27]
d.    Guru sebagai model
Anak usia taman kanak-kanak adalah masa meniru. Oleh karena itu, sebagian besar kegiatan di TK dilaksanakan melalui peniruan imitasi.[28]Sebagai model, guru harus terjun langsung mengikuti kegiatan bermain yang sedang dilakukan anak-anak sehingga mereka harus memahami berbagai aturan dari setiap permainan tersebut, serta harus memahami berbagai aturan dari setiap permainan tersebut, serta harus menghargai kegiatan bermain dan setiap permainan.[29]Dalam hal ini, guru harus berusaha menjadi bagian atau model dalam kegiatan bermain anak, harus berusaha mencari kesempatan untuk duduk bersama anak.
e.    Guru sebagai motivator
Guru sebagai motivator artinya guru harus dapat menjadi pendorong bagi anak untuk melakukan kegiatan bermain. Guru mendorong anak untuk lebih aktif ketika bermain, mendorong anak untuk melakukan eksplorasi, discovery, dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan penemuan-penemuan dan mendorong anak untuk menyalurkan rasa ingin tahunya dan mencari jawaban atas rasa ingin tahunya tersebut, membangkitkan semangat dan membujuk anak yang tidak mau bermain.[30]
Misalnya, ketika bermain harta karun di area pasir. Guru memotivasi anak untuk berlomba dengan semangat untuk menemukan harta sebanyak-banyak. Dorongan bisa dilakukan dengan ucapan “ Ayo Adit, kamu pasti bisa menemukan banyak lagi”. Bisa pula dilakukan dengan mengacungkan ibu jari pada anak yang baru saja menemukan satu harta karun.
f.     Guru sebagai teman
Selain sebagai pendidik guru juga harus dapat berperan sebagai teman/ sahabat bagi anak dalam bermain. Dalam hal ini guru bertindak sebagai coplayer,  artinya guru mempunyai peran yang setara dengan anak. Sebagai seorang teman bermain, guru menempatkan diri sebagai teman yang baik sehingga situasi bermain dan belajar menjadi akrab serta penuh kesenangan dan kegembiraan. Jika hubungan guru dan anak terbentuk seperti teman/ sahabat maka anak akan berlebih membuka diri pada gurunya. Hal ini dapat membantu anak mengembangkan sosialisasinya dengan baik.
Guru sebagai teman/ sahabat berarti guru harus bersedia terjun berpartisipasi bermain bersama anak-anak, berbaur dalam kegiatan yang dilakukan anak-anak. Disini guru jangan melakukan instruksi/ perintah, tetapi mengikuti aturan yang dibuat oleh anak-anak.Guru juga jangan cenderung mengalah karena anak juga perlu belajar menerima kekalahan, jangan pula mau menang sendiri karena anak perlu mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehan.Hal ini juga dapat membangkitkan rasa percaya diri bagi anak-anak yang pemalu.
            Misalnya, ketika bermain drama tentang keluarga, guru ikut ambil bagian dengan memainkan peran sebagai anak. Guru mengikuti aturan yang telah disepakati bersama. Di antaranya, anak harus pergi ke sekolah anak harus tidur siang atau anak harus minum susu. Dengan demikian, anak lebih bebas mengeluarkan ide-idenya karena tidak merasa ada yang menilai kegiatan yang dilakukannya.           
C.   Area Bermain
Alat- alat permainan yang diperlukan untuk kegiatan bermain dan belajar di dalam kelas di susun menurut sifat dan tujuan aktivitasnya dalam kelompok-kelompok yang disebut area kegiatan.Area kegiatan tersebut selalu berorientasi kepada anak sebagai pusat, bukan orang dewasa/ guru.Setiap kali diharapkan agar anak selalu aktif dalam mengikuti kegiatan baik yang bersifat kelompok (kelompok besar atau kelompok kecil) maupun dalam kegiatan individual.[31]
Area kegiatan ini diselenggarakan di TK dengan alat-alat permainan yang menarik dan dimaksudkan untuk menimbulkan suasana yang menyenangkan dan keakraban antara sesama teman sehingga anak merasa betah tinggal di sekolah. Adapun area bermain anak antara lain sebagai berikut:
A.   Alat-alat permainan di area kegiatan di dalam kelas
1.    Area Kesenian
Area ini diisi dengan berbagai bahan yang memungkinkan anak akan melakukan percobaan, eksplorasi, dan kreativitas lainnya. Area ini membawa suasana riang, kegembiraan dan kepuasan bagi anak. Area ini hendaknya memberikan kesempatan pada setiap anak untuk memilih kegiatan yang akan dilakukannya. Misalnya, melukis, menggambar, memotong, menempel dan lain sebagainya.
Alat-alat yang dapat digunakan di area ini adalah pensil warna, cat, gunting krayon, kapur tulis, kain perca, arang, benang, kelereng, anyaman, lem, kuas, sikat gigi usang, kapas plastisin, busa, spidol, majalah bekas, koran bekas, stik eskrim, biji-bijian, kardus bekas dan sebagainya.[32]
2.    Area Perpustakaan
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya berbagai kerusakan area ini haruslah diletakkan sejauh mungkin dari kegiatan yang dilakukan anak.Area ini perlu diisi dengan rak-rak buku, meja dan kursi sesuai dengan kebutuhan yang ada.Di samping itu, perlu pula disediakan suatu area tempat anak duduk secara santai.Area ini dapat pula dilapisi dengan karpet dan dilengkapi dengan bantal-bantal kecil.Bagi sekolah yang mampu, area ini juga dapat dilengkapi dengan dengan tempat untuk mendengarkan cerita dengan menggunakan alat perekam.
Alat-alat yang dapat digunakan di sentra perpustakaan antara lain adalah rak buku, meja, kursi, karpet, bantal-bantal kecil, tape recorder, buku-buku yang dilengkapi dengan katalog dan kartu peminjaman, poster, lukisan dan gambar-gambar lain yang memberikan informasi.
3.    Area bermain drama
Area ini digunakan anak untuk kegiatan bermain peran. Mereka berpura-pura berperan sebagai salah satu karakter dan terlibat dengan perilaku menirukan peran orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga memupuk adanya pemahaman peran sosial yang melibatkan interaksi verbal paling tidak dengan satu orang lain.
Penggunaan area ini membantu anak untuk mempelajari lebih dalam mengenai dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakat sekitarnya.Mereka menjalankan perannya berdasarkan pengalamannya yang terdahulu.Mereka belajar memutuskan dan memilih berbagai informasi yang relevan.Hal tersebut sangat membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan intelektualnya.Mereka juga banyak belajar dari temannya tentang cara-cara berinteraksi dalam kondisi sosial dramatik.
Selain itu mereka juga belajar berkonsentrasi dalam satu tema drama untuk waktu tertentu.Area ini juga memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosionalnya, seperti mengatasi rasa takut dengan memberikan peran berbagai tokoh yang sebenarnya bagi mereka menakutkan.Misalnya, seorang anak yang takut disuntik memerankan tokoh sebagai pasien.
Alat-alat yang dapat digunakan di area bermain drama antara lain perabotan dapur, lemari, meja kursi, meja makan, boneka, kostum binatang/ profesi dan lain-lain, celemek, tas, topi, helm, sarung tangan, setrika, sepatu, sandal, alat-alat make-up mainan, telepon, vas bunga, ember, cermin genggam, taplak/seprei ukuran sedang, berbagai majalah, kalender, gambar/poster, boneka tangan/jari, berbagai peralatan kerja mainan (martil, obeng, dan lain-lain), alat-alat tulis dan potongan kertas untuk menulis pesan dan sebagainya.
4.    Area musik
Musik adalah sumber yang sangat kaya untuk memajukan perkembangan anak. Di mana pun, kapan pun dengan budaya mana pun musik dapat digunakan sepanjang hari untuk menyatukan kegiatan pembelajaran, misalnya dengan bernyanyi, menggerakkan badan, bertepuk tangan, menari, memainkan alat-alat musik atau menyimak dengan tenang. Musik mengembangkan panca indera, mengajarkan ritme, berhitung dan pola kalimat, memperkuat otot halus dan kasar, serta mendorong kreativitas.Sebaiknya area ini ditempatkan agak jauh dari area-area lainnya.Bagi sekolah yang mampu biasanya menyediakan ruangan khusus untuk kegiatan musik.
Alat-alat yang digunakan di area musik, antara lain piano, gitar, angklung, alat-alat perkusi, alat musik buatan guru (marakas dari kaleng bekas) dan lain-lain. Juga dapat menggunakan bahan dari alam/ lingkungan sekitar, seperti batu, batok kelapa, botol air mineral, sendok, ember, tutup panci, kardus bekas, dan sebagainya.[33]
5.    Area permainan balok dan Logo/Lego
Balok sangatlah berarti bagi anak Taman Kanak-kanak bahkan untuk semua anak dengan berbagai tingkat usia. Dengan balok anak dapat membangun berbagai gedung.Logo/lego merupakan pengembangan dari balok yang dapat dibuat menjadi berbagai bentuk yang diinginkan anak, seperti mobil, kapal terbang, gerobak.Penempatan balok dan lego/ logo hendaklah pada posisi yang mudah diambil anak.Sebaiknya benda-benda tersebut ditempatkan pada gerobak kecil/ kotak yang beroda sehingga dapat ditarik dengan mudah oleh anak.Permainan balok/ logo/lego sangat penting bagi perkembangan anak di berbagai bidang termasuk bahasa, sosial, pengetahuan, matematika, dan kemampuan motorik.
Alat-alat yang digunakan pada area balok, antara lain adalah balok berbagai ukuran, lego, logo, kubus, kardus bekas, rambu-rambu lalu lintas, binatang-binatangan, mobil-mobilan, balok kardus, dan sebagainya. Balok-balok yang terdiru dari balok kardus dan balok kayu dan balok warna-warni adalah alat main konstruksi yang sangat disukai anak-anak.
6.    Area Permainan matematika
Dalam area ini anak sedapat mungkin diperkenalkan dengan pemikiran mengapa matematika dibutuhkan (bahwa matematika bukan sekedar permainan angka), apa hubungannnya dengan kehidupan sehari-hari mereka, dan penggunaanya untuk kehidupan mereka. Dalam area permainan matematika anak harus diberi kesempatan bereksplorasi dengan cara mencocokkan, berhitung, mengelempokkan, membandingkan, memperkirakan, dan sebagainya.
Alat-alat yang digunakan di area ini antara lain kartu-kartu angka, tutup botol, kerang, bahan-bahan sisa, batu-batuan, biji-bijian, menara gelang, papan hitung, tangga kubus, manik-manik, mozaik, balok ukur, papan paku, papan pasak, balok kecil, aneka binatang plastik, papan geometri, tangga silinder, tusuk gigi, puzzle, buah-buahan dengan berbagai jenis dan ukuran, kotak bentuk/pos, dan berbagai benda lainnya yang memberikan pengalaman aktual kepada anak.
7.    Area IPA/ Sains
Lingkungan alam dan lingkungan fisik sangat menarik bagi anak-anak. Dengan mengembangkan kemampuan untuk mengamati, berkomunikasi, membuat dugaan berdasarkan pengamatan, prediksi, anak akan mempunyai pengertian yang lebih baik tentang berbagai gejala alam. Berbagai pengalaman sehari-hari membutuhkan pengujian dan pemecahan/pengambilan kesimpulan.Area inipun mencerminkan minat anak terhadap kejadian-kejadian alam.Tempat ini kerap berubah-ubah sesuai dengan minat, perubahan musim, dan topik pelajaran.
Alat-alat yang digunakan di area ini berdasarkan topik aktivitasnya antara lain berikut ini:
a.    Makhluk hidup: menanam bibit, mengamati binatang peliharaan, pengamatan, dan percobaan menggunakan  berbagai jenis telur (mentah dan matang), kecebong, percobaan polusi, pengamatan serangga dan lain-lain.
b.    Binatang: pengamatan berbagai binatang yang dibawa kedalam lingkungan kelas, seperti semut, ulat, ayam, burung, cacing, ikan, kura-kura, katak, kelinci/marmut, cecak, keong, jangkrik, kupu-kupu, dll. Pengamatan berbagai tulang binatang mamalia, dan lain-lain.
c.    Tumbuhan: menanam biji-bijian/bibit, mengadakan berbagai eksperimen tentang hal-hal yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh, misalnya matahari, air, sarana tumbuh tanah. Mengamati tumbuhan kecil, daun, berbagai buah dan bijinya, sayur-sayuran dan berkebun.
d.    Berbagai benda: pasir, tanah, hujan, air, logam, tulang, batu-batuan, kayu, dan lain-lain
e.    Energi: sinar, bayang-bayang dalam cermin, magnet, kaca pembesar, cuaca dan musim, berbagai mesin rakitan sederhana, seperti sepeda, jam dinding dan lain-lain.
f.     Ruang dan waktu: matahari, bulan, bintang, ruang angkasa, bayangan matahari/lampu, dan lain-lain.
8.    Area Agama
Area ini untuk menanamkan pada anak-anakpada nilai-nilai moral, agama dan budi pekerti.Alat-alat yang digunakan diarea agama antara lain maket-maket rumah ibadah, peralatan ibadah, gambar/poster bacaan/doa, gambar/poster yang menunjukkan nilai-nilai moral/budi pekerti dan sebagainya.
B.   Alat-alat permainan di area kegiatan di luar kelas
1.    Area memanjat
Peralatan memanjat dapat digunakan oleh anak dari segala tingkat usia. Di bawah tempat memanjat perlu disediakan bahan-bahan lembut seperti busa, matras, pasir.Kegunaanya adalah untuk menghindari kemungkinan anak jatuh dan mendapat cedera.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu anak memanjat adalah:
a.    Anak tidak dibiarkan memanjat sementara tangannya memegang suatu benda;
b.    Anak secara bergantian dalam melakukan kegiatan ini;
c.    Anak tidak dibiarkan memanjat selain pada area yang diperbolehkan untuk memanjat.
Alat-alat yang dapat digunakan di area memanjat, antara lain adalah pohon, tambang/tali, palang bertingkat, jaring laba-laba, dan lain-lain.
2.    Area bermain pasir dan air
Sejak balita, anak-anak menikmati kegairahan bermain dengan pasir dan air.Pada awalnya mereka bereksplorasi tanpa menggunakan alat yang banyak, lama kelamaan mereka biasa bermain dengan alat yang lebih rumit.
Alat-alat yang dapat digunakan di area ini, antara lain bak air, bak pasir, sekop, botol, literan, cangkir, mobil-mobilan, binatang, gelas berbagai ukuran, busa, berbagai cetakan plastik beraneka bentuk, dan sebagainya.
3.    Area melempar dan menangkap
Untuk kegiatan melempar dan menangkap dapat digunakan berbagai jenis bola.Bola lainnya perlu disediakan dalam jumlah yang memadai sehingga dapat digunakan anak secara bebas. Alat-alat yang digunakan di area ini, antara lain bola kaki, bola basket, bola kasti, kantong biji.[34]
4.    Area olahraga/ jasmani
Aktivitas di area ini dilakukan dengan membentuk pos-pos kegiatan untuk menghindari antrian anak terlalu panjang, sementara peralatan yang dimiliki terbatas. Alat-alat yang digunakan di area ini, antara lain simpai, papan titian, karet, kardus bekas, tali, lantai, ban bekas.
Selain itu, masih ada beberapa alat bermain lain yang biasanya juga ada di luar kelas yaitu ayunan.




 


BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Bermain ialah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan , tanpa mempertimbangkan hasil akhir serta dilakukan secara sukarela dan tidak ada paksaan atau tekanan dari luar atau kewajiban.Kegiatan bermain memiliki peran yang sangat penting bagi perkemabangan anakyaitu bermain dapat memicu kreativitas, mencerdaskan otak, menanggulangi konflik, melatih empati anak, mengasah panca indra, sebagai media terapi (pengobatan) dan melalui bermain berarti anak melakukan penemuan.
Semua aspek perkembangan tersebut menunjang pemahaman orang dewasa untuk menyadari mengapa bermain itu penting karena perlu dikembangkan dalam program pendidikan anak.Untuk itu dibutuhkan peranan orang dewasa sebagai perencana, fasilitator, pengamat, model, dan sebagai teman dalam kegiatan bermain anak agar kegiatan bermain menjadi lebih optimal.
Untuk mengoptimalkan kegiatan bermain anak, dibutuhkan alat-alat permainan yang diperlukan dalam menunjang kegiatan bermain yang disusun menurut sifat dan tujuan aktivitasnya dalam kelompok-kelompok yang disebut dengan area kegiatan. Area kegiatan ini diselenggarakan di TK dengan alat-alat permainan yang menarik dan dimaksudkan untuk menimbulkan suasana yang menyenangkan dan keakraban sehingga kegiatan bermain anak dapat terfasilitasi dengan baik.
.
B.   Saran
Hendaknya kita sebagai guru dan  orang tua memahami tentang peran bermain bagi anak usia dini, peran orang dewasa dalam kegiatan bermain anak serta area bermain agar semua semua aspek perkembangan anak dapat berkembang dengan optimal melalui kegiatan bermain
Jika didalam makalah terdapat kekurangan dan kesalahan di dalam penulisan , kami mohon ma’af. Dan jika ada kritik dan saran dari  Dosen pembimbing dan teman-teman kami persilakan karena untuk menyempurnakan makalah kami ini.

























DAFTAR PUSTAKA

Dadan Suryana, 2013. Pembelajaran Anak Usia Dini (teori dan praktek pembelajaran),Padang :UNP Press

Departemen Pendidikan Nasional, 2003.Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Hendra Sofyan, 2015. Perkembangan Anak Usia Dini dan Cara Praktis Peningkatannya, Jakarta: CV.Infomedika

Masnipal, 2013.Siap Menjadi Guru dan Pengelola PAUD ProfesionalJakarta: PT. Elex Media Komputindo

Moh Anis, 2009. Sukses Mendidik Anak; Perspektif Al-Qur’an dan Hadist, (Yogyakarta: Insan Madani

Montolalu, 2005.Bermain dan Permainan Anak (Jakarta: Universitas Terbuka

Mulyasa, 2012.Manajemen PAUD, Bandung: Rosdakarya

M. Fadlillah, dkk, 2014. Edutainment Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Kencana

M. Nur Abdul Hafizh Suwaid, 2010. Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak, Yogyakarta: Pro U Media

Sandra J Stone, 1993. Playing Akids Curriculum. USA: Harper Collin Publishers

Yulani Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono, 2010.Berman Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, jakarta: PT Indeks

Yuliani Nurani Sujiono, 2011. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini Jakarta: Indeks


20
 
 




[1]Novan Ardy Wiyani dan Barnawy, Format PAUD, (Jakarta:Ar-Ruzz Media, 2012), hal.32.
[2]Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hal. 3.
[3]Departemen Agama Republik Indonesia,Alquran dan Terjemahannya,(Bandung: Diponegoro, 2006),hal. 62.
[4]Elizabeth B, Hurlock, Perkembangan Anak, ( Jakarta: Erlangga, 1998), hal. 320.
[5]Imam Musbikin,  Buku Pintar PAUD dalam Perspektif Islami, ( Yogyakarta: Laksana, 2010), hal 79.
[6]B.E.F Montololu, dkk, Bermain dan Permainan Anak, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007) hal 1.19-1.22.
[7]Ibid, hal. 5.17.
[8] Elizabeth B, Hurlock, Loc.Cit, hal. 320.
[9] Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, ( Jakarta: PY. Indeks, 2011), hal. 134.
[10] Imam Musbikin, Op. Cit, hal. 69-70.
[11] B.E.F Montololu, dkk.Loc.Cit, hal. 1.19
[12]Imam Musbikin. Op. Cit. hal. 72.
[13]B.E.F Montololu, dkk, Loc. Cit. hal. 1.19
[14]Mulyasa,Op.Cit, hal. 8
[15]Yuliani Nurani Sujiono, Loc. Cit., hal. 134
[16]B.E.F Montololu,Op.Cit, hal. 1.20.
[17]Ibid, hal. 1.21.
[18]Ibid., hal. 1.22.
[19]Ibid., hal. 1.22.
[20] Imam Musbikin,Op. Cit., hal. 74.
[21]Imam Musbikin, Op. Cit., hal. 77.
[22]Department of Health and Ageing, Peranan Orang Tua Ketika Anak-Anak Bermain secara Aktif (The Role of parents in children’s active play), (Jakarta: Rosdakarya, 2010), hal. 2.
[23] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, (Jakarta: PT. Rineke Cipta, 2008), hal. 109.
[24]B.E.F Montololu,Op.Cit.,hal. 12.6.

[26]Mulyasa, Op. Cit. hal. 193.
[27]Ibid.,hal. 192.
[28]B.E.F Montololu, dkk. Op. Cit.,12.8
[29] Mulyasa, Op. Cit.,hal 192.
[30]Montololu, Loc. Cit.,hal 12.8.
[31]B.E.F Montololu. Op. Cit. hal. 5.18.
[32]Diana Mutiah. Psikologi Bermain Anak Usia Dini, (Jakarta: Prenada Media Group, 2010), hal. 129.
[33]Ibid. hal. 130.
[34]Ibid. hal 132.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar